BeritaEkonomi Dan Bisnis

BETA-UAS Tampilkan Drone Buatan Indonesia di IDE 2026, Bidik Pemetaan hingga Pemadam Kebakaran

×

BETA-UAS Tampilkan Drone Buatan Indonesia di IDE 2026, Bidik Pemetaan hingga Pemadam Kebakaran

Sebarkan artikel ini

PIKIRANMERDEKANEWS.COM, JAKARTA – Teknologi drone buatan Indonesia mulai menunjukkan perkembangan untuk menjawab kebutuhan berbagai sektor industri. Tidak hanya digunakan untuk pemetaan dan pengawasan, teknologi pesawat tanpa awak kini juga dikembangkan untuk mendukung penanganan kebakaran.

Perkembangan tersebut ditunjukkan PT Bentara Tabang Nusantara melalui brand BETA-UAS dalam Indonesia Drone Expo (IDE) 2026 di Jakarta International Expo (JIExpo), Jakarta, yang berlangsung 11–13 Agustus 2026.

Mengusung tema “Unleashing the Power of Intelligent Aerial Systems”, IDE 2026 menjadi ajang bertemunya perusahaan teknologi, pengguna drone, pelaku industri serta berbagai pihak yang melihat peluang pemanfaatan sistem udara tanpa awak di Indonesia.

CEO PT Bentara Tabang Nusantara, Indra Permana Sopia, mengatakan BETA-UAS telah mengembangkan solusi drone untuk kebutuhan komersial sejak perusahaan berdiri pada 2016.

“Fokus kami di manufaktur untuk kebutuhan komersial, seperti pemetaan dan surveillance. Terbaru kami juga mengembangkan drone untuk pemadam api,” ujar Indra saat ditemui awak media di booth BETA-UAS, Selasa (11/8/2026).

Tiga Segmen Drone BETA-UAS

Indra menjelaskan, pengembangan BETA-UAS saat ini mencakup tiga kategori utama. Ketiganya adalah drone untuk pemetaan, drone surveillance untuk kebutuhan pengawasan, serta drone yang dirancang untuk mendukung pemadaman api.

Menurutnya, kebutuhan setiap pengguna drone di Indonesia memiliki karakteristik yang berbeda. Karena itu, perusahaan berupaya menghadirkan teknologi yang dapat disesuaikan dengan kondisi serta kebutuhan operasional pengguna.

“Kami bisa memberikan layanan yang lebih baik dibandingkan produk impor. Kami juga bisa melakukan kustomisasi sesuai kebutuhan customer,” jelasnya.

Kemampuan melakukan kustomisasi tersebut menjadi salah satu pendekatan BETA-UAS dalam menghadapi kebutuhan industri yang semakin spesifik.

Dorong Produk Drone dengan Kandungan Lokal

Selain pengembangan teknologi, BETA-UAS juga berupaya meningkatkan penggunaan komponen dan kemampuan produksi dalam negeri.

Indra mengatakan sebagian komponen elektronik masih diperoleh dari luar negeri. Namun, proses pengembangan drone dan manufaktur dilakukan di Indonesia bersama mitra lokal.

“Khusus komponen elektronik masih ada yang kami impor. Tetapi untuk drone dan manufakturnya dilakukan di Indonesia. TKDN kami sekarang sudah mencapai 56 persen,” katanya.

Menurutnya, peningkatan kandungan lokal merupakan bagian dari upaya memperkuat kemampuan industri drone nasional agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar bagi produk UAV impor.

Pasar Drone Indonesia Terus Terbuka

Indonesia dinilai memiliki potensi pasar drone yang besar karena kondisi geografis serta kebutuhan monitoring di berbagai bidang.

Sektor pertambangan dan perkebunan menjadi contoh bidang yang dinilai dapat memperoleh manfaat besar dari penggunaan drone. Teknologi tersebut dapat membantu proses pemetaan, pemantauan wilayah hingga pengumpulan data dari area yang luas.

“Potensinya sangat besar karena negara kita sangat luas. Program pemerintah juga banyak yang membutuhkan drone. Pertambangan kita besar, perkebunan juga besar, semuanya bisa kita efisiensikan dengan drone,” kata Indra.

Pemanfaatan drone juga berpotensi mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk melakukan pekerjaan tertentu di lapangan. Data dari udara dapat menjadi pendukung dalam proses monitoring dan pengambilan keputusan.

Hadapi Dominasi Produk Impor

Di tengah besarnya peluang pasar, industri drone nasional masih menghadapi tantangan. Produk impor yang telah lama beredar membuat produsen lokal harus meningkatkan daya saing, baik dari sisi teknologi maupun pelayanan.

Indra mengatakan produk dalam negeri masih menghadapi persepsi sebagai pilihan kedua dibandingkan produk impor.

“Yang beredar di Indonesia masih banyak produk impor. Produk lokal masih menjadi pilihan kedua. Ini yang terus kami dorong supaya produk dalam negeri bisa semakin menarik dan menjadi pilihan utama,” ungkapnya.

Kondisi tersebut sekaligus menjadi tantangan bagi BETA-UAS dan produsen UAV lainnya untuk terus melakukan inovasi serta meningkatkan kemampuan produksi.

BETA-UAS Harap Ekosistem Drone Nasional Makin Besar

Keikutsertaan BETA-UAS di IDE 2026 tidak sekadar menjadi ajang memperkenalkan produk. Pameran tersebut juga dimanfaatkan untuk memperluas jaringan dan membuka peluang kolaborasi dengan berbagai sektor yang membutuhkan teknologi drone.

Indra berharap industri drone nasional dapat tumbuh lebih cepat dengan semakin banyaknya perusahaan dan pelaku usaha yang terlibat.

“Kami berharap industri ini terus berkembang, pesertanya semakin banyak, dan semakin banyak pelaku usaha yang ikut terlibat,” ujarnya.

Dengan mengembangkan drone untuk pemetaan, surveillance dan pemadam kebakaran, BETA-UAS berupaya memperluas pemanfaatan teknologi UAV buatan Indonesia.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa drone tidak lagi sekadar menjadi perangkat untuk mengambil gambar dari udara. Dengan dukungan teknologi dan kemampuan manufaktur dalam negeri, UAV berpotensi menjadi salah satu instrumen penting untuk meningkatkan efisiensi operasional di sektor pertambangan, perkebunan, pemantauan wilayah hingga penanganan keadaan darurat.

Gelaran IDE 2026 sekaligus memperlihatkan semakin terbukanya peluang bagi industri drone nasional untuk memperkuat posisi di pasar Indonesia dan mendorong lahirnya lebih banyak inovasi teknologi udara buatan dalam negeri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *